Oleh: Muhammad Isnaini
Pada bulan suci Ramadhan, saat langit malam bersujud dalam ketenangan, kita memandang langit dengan hati yang penuh harap dan ketakjuban. Langit, dengan keindahan dan misterinya, telah menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang umat manusia. Di antara gemerlap bintang dan cahaya rembulan, kita merenungkan pesan-pesan yang tersemat di langit, pesan-pesan yang menuntun kita pada jalan kebenaran dan ketakwaan.Tadarusan di bulan Ramadhan menjadi momen yang istimewa di mana kita menyatukan hati dan pikiran dalam perenungan dan bacaan suci. Dalam keheningan malam, ayat-ayat Al-Qur’an mengalun seperti melodi yang menyejukkan jiwa, membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta. Dalam alunan suara yang merdu, tersematlah pesan-pesan dari langit yang mengajarkan kita tentang kasih sayang, keadilan, dan pengampunan.
Langit yang memancarkan kemegahan dan keagungan-Nya juga menyampaikan pesan-pesan yang mengingatkan kita akan kebesaran-Nya dan kerapuhan diri kita sebagai makhluk-Nya. Di dalam bulan yang penuh berkah ini, tadarusan menjadi saat yang tepat untuk merenungkan betapa kecilnya manusia di hadapan keagungan-Nya, namun sekaligus betapa besar rahmat-Nya yang senantiasa meliputi kita.Maka, mari kita sambut bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan terbuka, siap menerima pesan-pesan dari langit yang menginspirasi dan membimbing kita pada jalan yang lurus. Melalui tadarusan dan ibadah yang tulus, semoga kita dapat menyerap hikmah-hikmah yang tersemat di langit, menjadikan kita manusia yang lebih baik dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Secara filosofis, tadarusan menjadi waktu yang paling tepat untuk merefleksikan makna keberadaan manusia dalam alam semesta yang luas, yaitu manusia selalu mencari arti dan tujuan hidupnya. Tadarusan di bulan Ramadhan adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menyelami ayat-ayat suci Al-Qur’an, dan memperdalam pemahaman akan kebenaran hakiki.Ramadhan merupakan bulan di mana umat Islam diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan perilaku yang tidak bermoral dari fajar hingga senja. Hal ini tidak hanya menjaga disiplin fisik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membersihkan batin dari hal-hal negatif seperti amarah, iri hati, dan kedengkian.Tadarusan memungkinkan manusia untuk merenungkan keterhubungannya dengan alam semesta yang luas. Langit, bintang, dan alam semesta secara umum menjadi saksi bisu dari keagungan Sang Pencipta. Dalam tadarusan, manusia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari ciptaan-Nya yang luar biasa dan harus hidup dalam keseimbangan dengan alam.
Di bulan Ramadhan, praktik ibadah seperti shalat, puasa, dan tadarusan menjadi cara untuk memperkuat spiritualitas manusia. Melalui tadarusan, manusia tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan, tetapi juga menyuburkan keimanan dan ketakwaan dalam diri. Tadarusan juga memperkuat ikatan sosial antarumat manusia. Saat berbagi makanan berbuka puasa atau berkumpul dalam majelis tadarusan, manusia saling mendukung dan menguatkan satu sama lain, memperkuat solidaritas dan persaudaraan di antara sesama.
Secara religius, tadarusan di bulan Ramadhan dipandang sebagai wujud ibadah yang mendatangkan berkah dan pahala dari Allah SWT. Ibadah tadarusan tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan keimanan, dan mendapatkan pengampunan serta rahmat-Nya. Dengan demikian, tadarusan menjadi sarana untuk mencapai kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta dan mendapatkan keberkahan dalam hidup.
Bulan suci ini tidak hanya menjadi waktu untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga merupakan momen yang istimewa untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui tadarusan, meresapi pesan-pesan yang tersemat di langit.Langit, dengan keindahan dan kemegahannya, telah menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang umat manusia. Dalam bulan Ramadhan, langit menjadi semakin berarti karena menjadi saksi dari tadarusan yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Dengan langit sebagai latar belakang, tadarusan menjadi lebih mendalam dan memancarkan keagungan serta ketenangan yang mendalam.
Tadarusan di bulan Ramadhan bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga merupakan momen refleksi dan kontemplasi. Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan khidmat menjadi sumber inspirasi dan petunjuk bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pesan-pesan yang tersemat di dalamnya mengajarkan tentang kasih sayang, keadilan, dan pengampunan, mengingatkan manusia akan kodratnya sebagai hamba yang lemah di hadapan kebesaran Sang Pencipta.Langit yang memancarkan keagungan-Nya juga mengingatkan manusia akan keterhubungannya dengan alam semesta. Dalam tadarusan, manusia merenungkan kebesaran Allah SWT sebagai Pencipta semesta alam, sementara dirinya hanya sebutir debu yang lemah. Hal ini memperkuat kesadaran akan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi untuk menjaga alam dan menyelaraskannya dengan kehendak-Nya.
Tadarusan juga menjadi momen yang memperkuat ikatan sosial dan persaudaraan di antara umat Muslim. Saat berbuka puasa bersama atau berkumpul dalam majelis tadarusan, manusia saling mendukung dan menguatkan satu sama lain, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat dan penuh kasih.Di balik gemerlap bintang dan cahaya rembulan, umat Muslim berdoa dengan penuh harap agar amal ibadah mereka diterima di sisi Allah SWT. Mereka berharap agar pesan-pesan yang mereka dengarkan dan renungkan di bulan Ramadhan ini membawa manfaat bagi diri mereka dan seluruh umat manusia.
Bulan Ramadhan dan tadarusan adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan meresapi pesan-pesan yang tersemat di langit. Dengan hati yang bersih dan terbuka, mari kita sambut bulan suci ini dengan penuh keikhlasan dan harapan akan mendapatkan keberkahan dan hidayah dari Sang Pencipta. (Wallahu a’lam bis assowab).
[1] Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang